Etiket, do as Europeans…

Rapi mengantri untuk satu persatu naik ke kereta mini (Foto: Matatita @Marseille, France)

Ada sebuah pepatah, “When you’re in Rome, do as Romans.” Saat Anda berada di Roma, bertindaklah seperti orang Roma. Begitu juga saat berada di Eropa, mari bertindak ala orang Eropa. Tentu saja, kita pilih yang positif ya.

Ada sejumlah sikap mental dan budaya positif masyarakat Eropa yang saat ini belum menjadi bagian dari kebiasaan kita, antara lain:

Budaya Tetap Waktu

Orang Eropa terkenal sangat tepat waktu, sementara orang Indonesia mengenal budaya jam karet alias molor. Disiplin dan tepat waktu merupakan harga mati bagi orang Eropa. Mereka terbiasa sudah stand by di tempat beberapa  menit sebelum waktu yang disepakati. Apalagi jika berkaitan dengan transportasi, jadwal penerbangan, kererta, atau bus. Terlambat 1 menit atau bahkan dalam hitungan detik, kereta/bus tidak akan menunggu penumpang.

Keterlambatan akan menimbulkan keterlambatan lainnya, bahkan ada kalanya harus membayar uang lebih akibat keterlambatan tersebut. Karena itu, mari kita sama-sama belajar untuk tepat waktu. Biasakan sudah berada di tempat minimal 10 menit sebelum waktu yang disepakati. Misalnya janji jam 9.00 sebaiknya sudah berada di tempat selambatnya jam 8.50. Bukannya jam 9.00 baru bersiap jalan menuju ke tempat yang disepakati.

Budaya Antri

Orang Eropa sangat tertib saat mengantri. Mereka dengan sadar akan akan mengambil posisi antrian sesuai urutan. Pemandangan antrian yang rapi ini juga bisa kita lihat di tempat-tempat umum, seperti di toilet, di depan kasir, dll. Berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia yang suka berebut untuk bisa duluan masuk atau duluan dilayan.

Saat di Eropa, mari kita sama-sama belajar mengendalikan diri untuk tertib dalam antrian. Jika Anda melihat ada kenalan yang sudah berada di antrian depan, sementara Anda baru mulai mengantri, tetaplah berada di antrian belakang. Jangan asal nyelonong, main desak supaya bisa berdekatan dengan kenalan Anda.

Budaya Self-Service

Sikap mandiri orang Eropa sudah ditanamkan sejak mereka kanak-kanak. Siapapun mereka, baik dari kalangan biasa maupun orang berada, mereka tidak terbiasa dilayani. Hal ini berbeda dengan orang Indonesia yang jumlah pelayannya smakin banyak seiring dengan semakin meningkatnya status sosial seseorang. Nggak di rumah, nggak di kantor, ada asisten yang siap melayani.

Budaya Self-Service ini bisa dilihat saat makan di fast food atau breakfast di hotel. Setelah selesai makan, mereka akan membersihkan sisa-sia makanan dan dimasukkan ke dalam tempat sampah yang tersedia. Sehingga begitu keluar dari ruangan, meja makan sudah dalam keadaan bersih dan siap ditempati oleh orang lain.

No plastic bag

Saat berbelanja di minimarket, jangan heran jika Anda tidak akan diberi kantong plastik oleh petugas kasir. Jika Anda membutuhkan kantong plastik, mintalah pada petugas kasir. Kadang-kadang Anda harus membayar untuk selembar kantong plastik sekitar 4 sen. Oiya, Anda juga harus mewadahi sendiri belanjaan ke dalam tas. Jangan berharap petugas kasir membantu, karena orang Eropa sudah biasa self service.

Orang Eropa juga sudah punya kebiasaan meminimalisir kantong plastik yang dianggap kurang ramah lingkungan. Untuk pembelian barang kecil-kecil, mereka tidak lagi perlu kemasan. Jika mereka berbelanja dalam jumlah banyak, biasanya akan menggunakan shopping bag yang dibawanya sendiri.

Beberapa hal di atas, seringkali menimbulkan “shock-culture”. Meskipun terlihat sepele,

namun karena kita tidak terbiasa, maka dibutuhkan kesadaran penuh untuk melakukannya. Selamat beradaptasi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s