Bermalam di Rumah Alice

Jpeg
Alice Guest House (B&B)

Kadang-kadang saya menyusun rute perjalanan pribadi (solo traveling) dengan cara mencari akomodasi terlebih dulu. Begitu nemu akomodasi yang asyik, barulah diatur rutenya. Ya maklumlah, kalau lagi backpacking sendirian, saya lebih suka mencari akomodasi yang blusukan, karena akan menambah pengalaman. Beda dengan saat lagi traveling bareng rombongan, akomodasi dicari yang dekat dengan stasiun supaya mudah dan efektif saat akan berpindah kota.

Musim panas tahun lalu saat menjelajah kawasan Midland dan Cotswold, Inggris, saya menemukan penginapan yang cantik dan sesuai budget di kota kecil bernama Cheltenham. Nama kota itu pun baru sekali ini saya dengar. Cheltenham terletak di wilayah Gloucestershire, di pinggiran kawasan Cotswold yang ingin saya kunjungi. Jaraknya kurang lebih satu hingga dua jam perjalanan dengan bus ke desa-desa cantik di Cotswold seperti ke desa Bibury, Bourton-on-the-Water, dan Stow-on-the-Wold. Jangan bingung, nama desanya memang seperti itu ya nulisnya.

Jpeg
Bikin betah nongkrong di halaman

Idealnya sih, jika ingin menjelajah kawasan Cotswold, menginapnya di salah satu dari ketiga desa populer di Inggris tersebut. Tetapi saat saya mencari informasi akomodasi di kawasan sana, aduh mak, nggak sanggup membayarnya. Musim panas di desa memang berat di ongkos. Saat dimana orang-orang metropolitan memilih berlibur di pedesaan Inggris yang asri dan eksotis. Bayangkan, tarif semalam rata-rata 3jt. Sementara anggaran saya hanya sekitar 500rb-800rb per malam sudah termasuk sarapan dan tax.

Setelah menjelajah mesin pencari di internet, akhirnya hati saya bergetar saat menemukan akomodasi Bed & Breakfast (B&B) Alice Guest House. Foto-foto yang dipajang di website Alice maupun di situs reservasi, membuat saya benar-benar menjadi Alice in Wonderland. Pondok rumah kayu dengan halaman hijau rumput serta rindang oleh pepohonan. Pot-pot bunga yang ditata sepanjang jalan setapak menuju pondok menambah asri dan cantik.

Saya makin girang ketika menengok tarifnya, sesuai dengan bujet. Tanpa pikir panjang, segera saya memesannya. Reservasi saya lakukan lewat situs Booking.Com karena saat itu lebih hemat 50rb daripada tarif yang tertera dalam website £40. Lumayan kan, bisa buat beli tiket bus.

Lokasi Alice Guest House lumayan jauh dari stasiun kereta Cheltenham Spa, tapi bisa ditempuh dengan jalan kaki dari pusat kota. Ketika siang itu tiba di stasiun Cheltenham Spa, saya memang tak langsung ke hotel. Ransel carrier sudah saya titipkan selama beberapa hari di stasiun Birmingham. Hanya daypack kecil yang saya bawa, sehingga tak perlu buru-buru check-in. Jalan-jalan dulu lah.

Saya membeli tiket bus untuk seharian (dayrider) seharga £3. Dari stasiun ke pusat kota naik bus sekitar 10 menit perjalanan. Setelah puas jalan-jalan di pusat kota, kembali naik bus melihat suasana pinggiran kota. Dengan satu tiket yang berlaku seharian itu saya bisa naik turun sepuasnya. Nggak perlu takut nyasar juga, toh bisa naik bus lainnya tanpa harus mengeluarkan ongkos tambahan.

Menjelang sore barulah saya turun di halte dekat supermarket Tesco, lalu berjalan menyusur jalan kecil sekitar 300m menuju  Alice Guest House yang terletak di Swindon Road. Saat menemukan tulisan Alice Guest House saya sempat sedikit kecewa. Kok cuma rumah kecil aja? Mana pondok kayu dengan halaman rumput yang luas?

Ragu-ragu saya melangkah, menyusur lorong kecil di samping tulisan Alice Guest House. Perlahan saya dorong pagar kecil yang tak terkunci. Lalu saya bertemu pintu berwarna putih dengan patung anjing mungil yang membawa tulisan WELCOME. Saya yakin ini pasti pintu utama. Segera saya bunyikan bel dan sesaat kemudian pintu dibuka oleh seorang lelaki, pemilik guest house.

Ia mempersilakan saya masuk, ke dalam, hingga ke dapur. Dapur yang merangkap ruang resepsionis. Setelah memberesi administrasi, ia menunjukkan kamar saya di lantai dua dan juga kamar mandi di lantai yang sama.

Jpeg
serasa princess’ bedroom

Saat itulah saya terkesima melihat isi kamar yang bak kamar putri raja. Tempat tidurnya terbuat dari ranjang kayu dengan kelambu berenda-renda. Meja, kursi, almari, tempat gantungan handuk yang berada di dalam kamar ini juga terbuat dari kayu. Bahkan ada meja unik dari mesin jahit jadul untuk meletakkan teko pemanas air dan minuman.

Kamar mandinya, membuat saya betah berlama-lama untuk motretin. Ada bath-up, shower, closet, kursi, wastafel, dan rak berisi pernak-pernik. Shampoo dan sabun cair tersedia dalam beberapa botol dengan beragam aroma, tinggal pilih sesuai selera. Terus terang saya juga sempat galau milih, ndeso-nya keluar deh. Saat mau mandi pun pake acara bengong dulu, pake bath-up apa shower ya? Shower box terletak di sisi yang terpisah, nggak ikutan difoto karena sudah terlalu mainstream alias biasa kita jumpai. Begitupula saat pup, duduk berlama-lama sambil menikmati suasana.

Untunglah di lantai dua ini hanya ada 3 kamar yang disewakan, jadi nggak berebut kamar mandi walau digunakan bersama. Hari itu ada tiga tamu yang menginap di lantai dua. Saya sendiri dan sepasang kakek nenek yang menempati kamar di depan kamar saya. Sementara satu kamar lain masih available dan dibiarkan terbuka pintunya.

Jadilah saya juga melongok isi kamar tersebut, sekedar melihat interiornya. Rupanya setiap kamar didesain beda-beda. Kamar saya dengan segala perabotan kayu yang memberi kesan antik, sementara kamar yang lain dengan ranjang besi tempa yang anggun. Sekali lagi, saya merasa nggak nyesel ditempatkan di lantai dua, bukan di pondok kayu seperti yang saya angankan saat reservasi.

Jpeg
Kamar yang anggun

Oiya, pondok kayu dengan halaman berumput itu ternyata adalah bungalow-bungalow kecil di belakang bangunan rumah utama. Ada 4 pondok yang disewakan di halaman belakang dan sudah full-booked.

Saat turun sarapan keesokan harinya, di ruang makan yang menghadap ke halaman belakang rumah, saya bisa menikmati kesegaran halaman belakang yang hijau dan rindang. Berlama-lama saya nongkrong di teras belakang, sambil bercengkerama dengan burung-burung merpati putih yang jinak.

Sungguh kemewahan yang tidak akan saya temukan jika saya menginap di hotel konvensional dekat kota.

Jpeg
ruang makan di bagian belakang rumah

 

One thought on “Bermalam di Rumah Alice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s