Sepedaan di Amsterdam

IMG_20140808_115040
Parkiran sepeda di stasiun Amsterdam Centraal

Tahukan Anda bahwa ada lebih dari 800.000 sepeda di kota Amsterdam? Data yang saya temukan dari situs resmi Iamsterdam.Com ini rasanya nggak perlu dikroscek lagi ya. Cukup dibuktikan dengan pandangan mata saat kita mengunjungi Amsterdam. Begitu keluar dari hall stasiun Amsterdam Centraal, menengoklah ke kanan, ke area parkir sepeda di pinggir kanal, di depan hotel Ibis. Mata kita akan takjub melihat parkiran (bike tower) yang memiliki kapasitas hingga 2.500 sepeda dan selalu padat. Rasa-rasanya, itulah parkiran sepeda terbesar yang pernah saya lihat.

20140808-20140810_amsterdam_P1160250_DxO_1024_575
markir sepeda di jembatan

Jika kita melangkah blusukan ke penjuru kota, yang tidak terdapat kantong-kantong parkir seperti halnya di stasiun, maka dengan mudah kita menemukan tumpukan sepeda terparkir di jembatan. Ibarat pepatah, tak ada rotan akar pun jadi, maka di Amsterdam ada pepatah yang saya ciptakan: tak ada parkiran, jembatan pun jadi.

Jembatan menjadi lokasi favorit untuk memarkir sepeda karena body sepeda bisa dikaitkan pada galangan jembatan dengan menggunakan tali gembok. Sehingga relatif aman jika ditinggal selama beberapa hari oleh pemiliknya. Selain itu juga gratis, karena nggak ada juru parkir yang berkeliaran di jalan.

20140808-20140810_amsterdam_P1160259_DxO_1024_575

Budaya bersepeda orang Belanda menjadi daya tarik bagi turis yang pengin bergaya lokal, sepedaan di Amsterdam. Maka maraklah rental sepeda dan paket-paket wisata sepeda yang mudah dijumpai di Centraal. Paket tour sepedaan ini biayanya sekitar 22euro dengan durasi 2 jam. Rute yang ditempuh melewati kawasan wisata populer seperti Jordan quarter, Anne Frank House, Museumplein, Vondelpark, dan tak ketinggalan Red Light District.

Jika sudah familiar dengan kawasan Amsterdam, menyewa sepeda dan ngonthel sendiri jauh lebih hemat dan menyenangkan, seperti yang saya lakukan. Kita bisa menyewa sepeda sesuai kebutuhan. Makin lama sewanya, makin hemat harganya. Tarif sewa harian sekitar 10eur, jauh lebih hemat daripada sewa paket 3jam sebesar 7.5eur. Jika hanya punya waktu terbatas, misalnya hanya pengin nyobain ngonthel 1 jam saja, tarifnya sekitar 3eur per jam.

Saya menyewa sepeda di dekat Dam Square, Amsterdam. Saat masuk ke ruang rental sepeda, rasanya seperti masuk ke toko sepeda. Puluhan sepeda dalam berbagai jenis dan ukuran terparkir rapi. Juga terdapat rak berisi spare part dan orderdil, persis bengkel sepeda.

Setelah menemukan sepeda yang cocok, sepeda model city bike, petugas menyetel sepeda tersebut agar pas saya gunakan. Maklum nih, ketinggian badan saya termasuk mini untuk ukuran bule, jadi harus disetel dulu sepedanya. Petugas juga memberi kesempatan pada saya untuk mencoba sepeda terlebih dahulu, jika dirasa masih kurang nyaman, bisa disetel ulang. Setelah itu baru dipake jalan-jalan.

Petugas juga membekali saya dengan sejumlah gembok, yang luar biasa gedenya. Ada gembok yang cukup dikuncikan jika sepeda diparkir sebentar, misalnya masuk ke toko sebentar. Ada pula gembok tali yang digunakan untuk mengaitkan body sepeda ke tiang atau galangan seperti di jembatan.

20130902-20130904_amsterdam_P1120145_DxO_1024_768
numpang narsis dengan sepda sewaan

Ngonthel di Amsterdam awalnya lumayan kagok, terutama jika  berada di persimpangan jalan. Maklum, kita di Indonesia kan terbiasa bersepeda di jalur kiri. Di Amsterdam harus menggunakan jalur kanan. Saya sering salah posisi saat melintas persimpangan, tanpa sadar kadang mengambil jalur kiri seperti yang biasa dilakukan di Indonesia.

Selain urusan jalur sepeda dan membaca rambu-rambu, adaptasi bersepeda di Amsterdam  yang perlu saya lakukan adalah soal speed. Orang-orang Belanda ini kalo naik sepeda ngebut. Beda banget dengan di Jogja, di jalan-jalan kampung malah sering terdapat tulisan “Ngebut Benjut” sebagai peringatan pagi pesepeda untuk tidak ngebut. Laju pesepeda di Belanda super kencang mengalahkan kendaraan. Semula saya pikir pesepeda Belanda memang brutal-brutal. Tapi setelah nyobain ngonthel di Amsterdam saya baru tahu kenapa mereka harus ngebut. Karena kalo ngonthel dengan gaya kalem seperti di Jogja, bakal kedinginan. Udara makin terasa dingin menusuk dada.

Maka saya pun secara otomatis juga ikutan ngebut, terutama jika di jalur lurus. Selain biar nggak kediningan juga kasian dengan pesepeda di belakang kan?

20140808-20140810_amsterdam_P1160268_DxO_1024_575

Rute sepedaan yang saya lakukan di sekitar Centraal saja, yang sudah cukup familiar jalurnya. Dari Dam Square saya mengayuh sepeda ke arah mall Magnum yang terletak di belakang Palace, lalu belok ke kanan ke arah sentral Centraal. Juga masuk ke gang-gang kecil yang biasanya saya lewat sambil berjalan kaki. Sesekali memarkir sepeda untuk masuk ke supermarket Hema atau jajan makanan.

Ada sensasi tersendiri saat memarkir sepeda dan meninggalkannya untuk masuk ke dalam toko. Saya merasa seperti penduduk lokal lainnya, meski hanya sesaat.

Nah, sudahkah Anda mencoba sepedaan di Amsterdam atau kota lain di Belanda? Bagi pengalaman Anda ya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s