Gembok Cinta: antara Romantisme dan Vandalisme

Jpeg

Gembok cinta Paris kini tinggal kenangan. Kenangan manis bagi para turis dan kenangan buruk bagi pemerintah kota Paris. Awal Juni 2015 lalu, secara resmi pemerintah kota Paris mengangkut jutaan gembok seberat 45 ton dari “jembatan cinta” Pont des Arts. Gembok cinta yang dipasang di jembatan tersebut dianggap membahayakan dan merusak bangunan heritage.

Pont des Arts adalah jembatan besi pertama yang dibangun di Paris pada masa kekuasaan Napoleon I antara tahun 1802 hingga 1804. Jembatan pedestrian di atas sungai Seine yang menghubungkan Palais du Louvre dengan Institute de France ini sejak tahun 1975 sudah ditetapkan sebagai salah satu monumen nasional yang bersejarah. Sementara itu UNESCO juga sudah menetapkan kawasan riverfront Paris yang membentang dari Menara Eiffel hingga Ile Saint Louis sebagai Situs Warisan Dunia. Dengan kata lain, Pont des Arts juga merupakan warisan budaya yang harus dilindungi.

Continue reading “Gembok Cinta: antara Romantisme dan Vandalisme”

Banyak Gincu di Nisanmu

20121231-20130102_paris_IMG_1000_DxO_1024_683

Sebuah makam yang terletak di divisi 20 kuburan Montparnasse, Paris, membuat langkah saya terhenti diiringi mata terbelalak dan mulut melongo. Takjub. Nisan berukuran persegi yang memuat dua nama beken Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir itu dipenuhi kecupan bibir bergincu! Baru kali ini saya melihat batu nisan penuh gincu. Pasangan yang dikubur dalam satu nisan itu bukanlah sejoli abege. Saat mereka meninggal, usianya pun tak lagi muda. Sudah seusia kakek dan nenek, lebih dari 70 tahun.

Jadi, mengapa orang gemar memberikan kecupan pada batu nisannya sampai klomoh begitu? Dalam diam keterpakuan, berbagai pertanyaan dan kegumunan masih memenuhi kepala saya.

Continue reading “Banyak Gincu di Nisanmu”

Menyusur Jejak Harry Potter di Edinburgh

Jpeg

Pembaca fanatik buku Harry Potter yang berkunjung ke Edinburgh, pastilah tak akan melewatkan petualangan ini: menyusuri jejak-jejak J.K Rowling dan Harry Potter di ibukota Skotlandia. Di kota inilah Harry Potter lahir pada tahun 1997.

Rowling menemukan ide menulis serial Harry Potter saat mengalami delay kereta dari Manchester ke London tahun 1990. Sepanjang tujuh tahun sejak ide Harry Potter muncul hingga diterbitkan, banyak peristiwa tragis yang dialamai Rowling. Kematian ibunya, kehidupan rumah tangga yang berakhir dengan perceraian, menjadi single parent bagi Jessica, bayi perempuan yang baru berusia 4 bulan, dan kondisi keuangan yang pas-pasan. Rowling juga harus mencari tempat tinggal baru setelah bercerai. Ia memutuskan pindah ke Edinburgh, menetap sekota dengan saudara perempuannya, pada tahun 1993.

Continue reading “Menyusur Jejak Harry Potter di Edinburgh”