Nge-mall di London

20141217-20141220_london_p1170739_dxo_1024_576
Westfield Stratford City, East London

Mencari mall di London dan kota-kota lain di Eropa tidaklah semudah menemukan mall di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pertokoan di London umumnya berupa toko-toko independent yang berderet di kawasan shopping street, seperti yang terdapat di Oxford Street, Piccadily Circus, dll. Memang sih ada beberapa dept store yang cukup besar seperti Harrods, Debenhams, Mark & Spencer, maupun Primark. Tapi, meski bangunannya relatif lebih luas dibanding toko lain, belum bisa disebut sebagai mall.

Konsep mall, baru belakangan ini mulai dibangun, dan biasanya menempati lokasi di pinggiran kota yang memang masih memiliki lahan luas. Mall yang lagi ngehits di di London, adalah Westfield, jaringan urban shopping centre terbesar yang baru beberapa tahun ini hadir. Westfield shopping mall pertama dibuka pada tahun 2008 berlokasi di Stepherdโ€™s Bush London Barat. Tiga tahun kemudian, di musim gugur tahun 2011, Westfield dibuka di Stratford City, London Timur. Westfield Stratford City mendapat gelar sebagai one of the largest urban shopping centre in Europe. Wow..segede apakah mall ini?

Continue reading “Nge-mall di London”

Melipir ke Edensor

FF4AD542-C631-4F0C-908B-5233A41BE092

Di bawah gerimis senja dalam suhu 7 derajat yang menggigit, saya berdiri sendirian di tepi jalan sunyi, menanti bus. Petang itu tinggal dua trayek bus ke kota Sheffield, yaitu bus pukul 17.49 dan 18.03. Jika saya tak setia berdiri di halte tanpa atap ini, hanya berupa tiang dengan papan kecil berisi jadwal bus, bisa-bisa terlewat dan harus bermalam entah di mana. Tak ada hostel di sini, hanya ada cottage yang tarifnya tidak masuk dalam budget backpacker berkantong rupiah seperti saya.

Desa ini sungguh sunyi, tapi juga sangat cantik. Di hadapan saya membentang padang rumput hijau dengan pohon-pohon yang daunnya masih malu-malu bersemi, meski sudah memasuki musim semi pertengahan bulan April. Di balik hamparan bukit hijau dan pepohonan itu, tersembunyi rumah bangsawan Inggris, Duke of Devonshire. Itulah Chatsworth House, salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Inggris. Rumah di tepi sungai Derwent yang dibangun pada abad 15 itu mengundang banyak pengunjung karena keindahan tempatnya. Rumah itu juga pernah digunakan untuk syuting film Pride and Prejudice (2005), yang diangkat dari novel klasik dengan judul sama kartya Jane Austen.

Tapi, langkah kaki saya tak terayun ke sana menyusuri pedestrian yang meliuk di punggung bukit hijau. Meski saya begitu ingin. Hanya 15 menitan berjalan, tapi saya juga harus membuat pilihan. Dalam keterbatasan waktu, saya memilih menjelajahi desa kecil di seberangnya, yang bukan merupakan destinasi wisata lokal, tapi menjadi impian para pembaca novel Andrea Hirata. Ya, itulah desa Edensor (dibaca Ensor).

Continue reading “Melipir ke Edensor”

Bermalam di Rumah Alice

Jpeg
Alice Guest House (B&B)

Kadang-kadang saya menyusun rute perjalanan pribadi (solo traveling) dengan cara mencari akomodasi terlebih dulu. Begitu nemu akomodasi yang asyik, barulah diatur rutenya. Ya maklumlah, kalau lagi backpacking sendirian, saya lebih suka mencari akomodasi yang blusukan, karena akan menambah pengalaman. Beda dengan saat lagi traveling bareng rombongan, akomodasi dicari yang dekat dengan stasiun supaya mudah dan efektif saat akan berpindah kota.

Musim panas tahun lalu saat menjelajah kawasan Midland dan Cotswold, Inggris, saya menemukan penginapan yang cantik dan sesuai budget di kota kecil bernama Cheltenham. Nama kota itu pun baru sekali ini saya dengar. Cheltenham terletak di wilayah Gloucestershire, di pinggiran kawasan Cotswold yang ingin saya kunjungi. Jaraknya kurang lebih satu hingga dua jam perjalanan dengan bus ke desa-desa cantik di Cotswold seperti ke desa Bibury, Bourton-on-the-Water, dan Stow-on-the-Wold. Jangan bingung, nama desanya memang seperti itu ya nulisnya.

Continue reading “Bermalam di Rumah Alice”