Halloween di Tivoli Garden, Kopenhagen

20161105-20161106_copenhagen_p1050869_dxo_1024_575

Bangsa Eropa menyambut Halloween yang jatuh tiap tanggal 31 Oktober dengan hiasan pumpkin atau labu kuning dan monster-monster yang menyeramkan. Pusat perbelanjaan, hotel, restoran, taman, dan tempat-tempat umum lainnya biasanya sudah mulai berhias sejak beberapa hari sebelumnya.

Saya beruntung masih bisa mencicipi suasana Halloween di sebuah taman bermain terbesar di Kopenhagen, Tivoli Garden. Taman ini secara khusus menghadirkan tema Halloween sejak 14 Oktober – 6 November 2016. Saya tiba di Kopenhagen tanggal 5 November 2016 dan menginap selama 2 malam di hotel yang nggak jauh dari Tivoli. Karena taman ini akan diliburkan muali 7 November dan baru buka kembali pada akhir bulan November dengan tema Christmas, maka dengan keterbatasan waktu ditambah guyuran hujan sepanjang hari, tetep nekat masuk ke Tivoli Garden. Ya dong, daripada kehabisan momen dan belum tentu Halloween tahun berikutnya bisa berada di Kopenhagen lagi. Mendingan saya berhujan-hujan menikmati suasana Halloween di taman ini. Sekalian biar semakin berasa kembali ke masa kanak-kanak. Hehe..!

Continue reading “Halloween di Tivoli Garden, Kopenhagen”

Packing Ringkas di Musim Dingin

koper

Mau ngintip seperti apa daftar pakaian yang saya bawa saat traveling di musim dingin? Nggak terlalu beda dengan saat musim panas, sama-sama hanya membawa 3 set pakaian utama. Bedanya, pada jenis pakaian dan bahannya saja. Jika saat musim panas nggak perlu pakai long-john dan lengan panjang, maka saat musim dingin harus dipilih pakaian yang bahannya lebih hangat.

Baju hangat nggak berarti baju tebal loh. Saat ini di pasaran mudah diperoleh baju hangat yang terbuat dari bahan yang ringan, ringkas, dan bahkan tipis. Memang sih, harganya relatif lebih mahal, namun akan memberi kehangatan dan kenyamanan maksimal selagi winter-trip. Badan hangat, nggak basah/waterproof, dan koper ringkas sehingga membuat mobilitas jadi lebih lancar nggak banyak hambatan.

Nah, ini dia bawaan saya.

Continue reading “Packing Ringkas di Musim Dingin”

Melipir ke Edensor

FF4AD542-C631-4F0C-908B-5233A41BE092

Di bawah gerimis senja dalam suhu 7 derajat yang menggigit, saya berdiri sendirian di tepi jalan sunyi, menanti bus. Petang itu tinggal dua trayek bus ke kota Sheffield, yaitu bus pukul 17.49 dan 18.03. Jika saya tak setia berdiri di halte tanpa atap ini, hanya berupa tiang dengan papan kecil berisi jadwal bus, bisa-bisa terlewat dan harus bermalam entah di mana. Tak ada hostel di sini, hanya ada cottage yang tarifnya tidak masuk dalam budget backpacker berkantong rupiah seperti saya.

Desa ini sungguh sunyi, tapi juga sangat cantik. Di hadapan saya membentang padang rumput hijau dengan pohon-pohon yang daunnya masih malu-malu bersemi, meski sudah memasuki musim semi pertengahan bulan April. Di balik hamparan bukit hijau dan pepohonan itu, tersembunyi rumah bangsawan Inggris, Duke of Devonshire. Itulah Chatsworth House, salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Inggris. Rumah di tepi sungai Derwent yang dibangun pada abad 15 itu mengundang banyak pengunjung karena keindahan tempatnya. Rumah itu juga pernah digunakan untuk syuting film Pride and Prejudice (2005), yang diangkat dari novel klasik dengan judul sama kartya Jane Austen.

Tapi, langkah kaki saya tak terayun ke sana menyusuri pedestrian yang meliuk di punggung bukit hijau. Meski saya begitu ingin. Hanya 15 menitan berjalan, tapi saya juga harus membuat pilihan. Dalam keterbatasan waktu, saya memilih menjelajahi desa kecil di seberangnya, yang bukan merupakan destinasi wisata lokal, tapi menjadi impian para pembaca novel Andrea Hirata. Ya, itulah desa Edensor (dibaca Ensor).

Continue reading “Melipir ke Edensor”